RAKSASAPOKER Isti Hidayati, mahasiswa S3 asal Indonesia sukses mencapai penghargaan disertasi terbaik tahun 2020 di Universitas Groningen. Penghargaan tersebut diberikan pada kegiatan Summer Ceremony 1 Juli 2021.
Dosen UGM ini membuat disertasi bertajuk Understanding mobility inequality: A socio- spatial approach to analyse transport and land use in Southeast Asian metropolitan cities. Berkat disertasi tersebut Isti diganjar hadiah 7. 500 Euro ataupun dekat 128 Juta rupiah.
Penghargaan disertasi terbaik ataupun Wierenga- Rengerink Prize ini ialah bagian dari Upacara Masa Panas yang diselenggarakan selaku kegiatan perpisahan kepada seluruh siswa internasional yang lulus. Tiap tahunnya, lebih dari 1. 000 mahasiswa internasional lulus dari Universitas Groningen.
Dilansir dari penjelasan pers Nuffic Neso Indonesia, Wierenga- Rengerink Prize mulai diberikan semenjak tahun 2015 kepada mahasiswa PhD. Penghargaan diberikan pada mahasiswa yang bagi juri sudah menulis disertasi terbaik tipe University of Groningen, Belanda.
Pemenang penghargaan Wierenga- Rengerink tahun- tahun tadinya merupakan:
- Namkje Koudenburg( 2014)
- Hanna van Loo( 2015)
- Nigel Hamilton serta Jordi van Gestel( 2016)
- Alain Dekker( 2017)
- Michael Lerch( 2018)
- Arpi Karapetian( 2019).
Pengajar UGM kelahiran 17 September 1986 ini berkata, disertasinya termotivasi keadaan di Indonesia. Bagi wanita berhijab ini, keadaan transportasi di Indonesia terus menjadi tergantung pada kendaraan individu, paling utama di Jogja.
" Aku bandingkan kala aku masih sekolah, aku banyak memakai transportasi universal. Dikala ini, banyak siswa yang memilah diantar memakai kendaraan individu, memakai ojek online, sarana antar- jemput, ataupun bawa kendaraan sendiri. Sementara itu, aku merasa pengalaman naik angkutan universal itu menarik, dapat berjumpa banyak orang serta memandang kegiatan orang lain," kata Isti.
Membuat disertasi menimbulkan Isti memiliki banyak pengalaman memakai kendaraan universal. Pengalaman ini dialami dikala terletak di Indonesia serta luar negara. isti pula sudah melewati ekspedisi dengan suka serta duka.
" Jika lagi suntuk, ketemu simbah- simbah yang berakhir jualan di angkot serta cerita gimana hasil jualan hari ini, itu dapat buat aku bahagia. Di sisi lain, aku pula sempat hadapi racism kala aku travelling di luar negara( sebab aku gunakan kerudung), yang aku pikir tidak adil," tutur wanita lulusan S2 Universität Stuttgart, Jerman, ini.
Walaupun begitu, Isti mengaku sokongan dari supervisor, sahabat kampus UGM, serta perkumpulan pelajar Indonesia, dan keprofesionalan LPDP yang tidak sempat telat berikan duit beasiswa, yang ikut membantunya menggapai penghargaan dari Universitas Groningen ini.



0 Komentar