Subscribe Us

header ads

Kejam Tak Punya Hati! Nur Ali Meninggal Dunia Ditolak 9 RS saat Saturnasi Oksigen Rendah

RAKSASAPOKER Di Mojokerto, Jawa Timur, laki- laki paruh baya asal Desa Pacet, Kecamatan Pacet, bernama Nur Ali wafat dunia saturasi oksigen dalam darahnya tinggal 45 persen. Parahnya Nur Ali ditolak 9 rumah sakit.

Wajarnya 95 persen ke atas. Keluarganya bukan tidak berupaya bawa Nur Ali ke Rumah sakit supaya lekas menemukan pertolongan.

telah 9 Rumah sakit dikunjungi, tetapi mereka seluruh menolak. Walhasil, Nur Ali menghadap Si Pencipta saat sebelum tersentuh dorongan kedokteran.

Cerita tragis ini bermua dikala Ali tiba- tiba sesak nafas dikala tidur, Minggu( 25/ 7) dekat jam 07. 00 Wib.


Duda anak satu ini tinggal bersama keluarga adik kandungnya di Dusun Pacet Utara, Desa Pacet. Dia pernah menemukan dorongan respirasi lewat oksigen kemasan botol.

Tetapi, 2 botol oksigen portabel itu habis dalam hitungan menit. Sehingga Ali dilarikan ke Puskesmas Pacet.

“ Di Puskesmas Pacet dikasih oksigen, saturasinya 45 sehingga wajib dibawa ke rumah sakit. Tetapi, aku dirusuh mencari ambulans sendiri sebab ambulans puskesmas hendak dipakai tracing ke Claket serta Sajen,” kata kakak Kandung Ali, Yeti Muliah, 52, Selasa( 27/ 7/ 2021).

Dikala itu, lanjut Yeti, petugas Puskesmas Pacet pula tidak mencarikan rumah sakit referensi buat Ali.

Beruntung dia menemukan pinjaman ambulans kepunyaan Desa Kesimantengah, Kecamatan Pacet. Dipimpin Kades Kesimantengah, Yeti berkelana mencari rumah sakit buat adik kandungnya.

Sepanjang mencari rumah sakit, Ali cuma mengandalkan konsumsi oksigen dari tabung 1 m kubik di dalam ambulans buat bertahan hidup.

Sayangnya, seluruh rumah sakit yang dia datangi menolak buat merawatnya dengan bermacam alibi.

Rumah sakit Sumberglagah- Pacet menolak dengan alibi tidak terdapat kamar serta oksigen menipis. Begitu pula dengan RSUD Profesor dokter Soekandar- Mojosari yang mengaku oksigen menipis, RSI Arofah- Mojosari oksigen terbatas, Rumah sakit Sido Waras- Bangsal kamar penuh serta oksigen menipis, Rumah sakit Gatoel- Kota Mojokerto IGD penuh serta oksigen menipis.

“ Hingga di Rumah sakit Gatoel dekat jam 10. 00 Wib. Adik aku pernah dicek saturasinya naik jadi 65 persen sehabis bisa oksigen di ambulans. Tetapi, Rumah sakit Gatoel menolak menjaga sebab IGD penuh,” cerah Yeti.

Enggan menyerah, Yeti bawa Ali ke RSI Hasanah serta RSUD dokter Wahidin Sudiro Husodo di Kota Mojokerto, dan ke RSUD RA Basoeni di Gedeg, Kabupaten Mojokerto. Tetapi, 3 rumah sakit itu menolak menjaga Ali dengan alibi ruangan penuh serta stok oksigen menipis.

“ Salah satunya rumah sakit yang pernah mengecek keadaan adik aku cuma Rumah sakit Gatoel. Rumah sakit yang lain langsung menolak tanpa memandang keadaan adik aku,” ucapnya.

Bunda 4 anak ini lalu bawa Ali ke Rumah sakit Kartini di Kecamatan Mojosari, Kabupaten Mojokerto buat uji swab antigen.

Hingga di daerah Kecamatan Bangsal dekat jam 10. 30 Wib, oksigen di dalam ambulans tiba- tiba habis.

Sontak Ali kembali hadapi sesak nafas serta panas.

“ Aku membawa ke Rumah sakit Kartini buat uji swab, tetapi ditolak sebab kondisinya telah kolaps sehingga tidak pernah uji swab,” jelas Yeti.

Sehabis kesusahan memperoleh layanan rumah sakit, Yeti berupaya mencarikan oksigen buat adik kandungnya. Sehingga dia bawa Ali kembali ke Puskesmas Pacet. Lagi- lagi dia wajib menelan kapsul getir.

“ Aku membawa kembali ke Puskesmas Pacet pula ditolak dengan alibi tidak terdapat oksigen. Aku pernah marah- marah sebab saat sebelum berangkat mencari rumah sakit oksigen masih terdapat. Dikala kami kembali sebabnya oksigen tidak terdapat,” ucapnya.

Dekat jam 11. 00 Wib, Yeti bawa Ali kembali. Dikala itu, anak- anaknya kelabakan mencari oksigen kedokteran. Mereka baru memperoleh pinjaman tabung oksigen 1 m kubik di daerah Kutorejo, Kabupaten Mojokerto.

“ Adik aku wafat dunia jam 11. 30 Wib. Dikala itu menunggu oksigen dari Kutorejo, anak aku bisa pinjaman dari temannya,” tuturnya.

Yeti serta keluarganya terpaksa memandikan serta memakamkan sendiri jenazah Ali. Tidak satu juga tetangganya berani mendekat sebab takut Ali wafat akibat Covid- 19.

Dia berharap penderitaan yang dirasakan adik kandungnya itu jadi tamparan keras untuk pemerintah. Dikala Corona mengganas, pemerintah sepatutnya sanggup menjamin ketersediaan oksigen kedokteran serta layanan rumah sakit.

“ Harusnya pemerintah sediakan oksigen. Masa rumah sakit sebesar itu tidak terdapat oksigen. Pihak rumah sakit harusnya berikan pemecahan, berikan arahan, bukan menolak 

Posting Komentar

0 Komentar