INFOKIU.COM - Keluarga besar Riki Samosir merasakan duka mendalam, Selasa (29/6/2021) kemarin. Itu setelah mereka mendapat kabar bahwa pemuda itu telah meninggal dunia, Senin (28/9/2021). Riki selama ini hanya diketahui bekerja seorang Anak Buah Kapal (ABK) di salah satu kapal berbendera China dikabarkan meninggal dunia karena sakit saat berlayar.
Kabar tersebut sontak saja membuat keluarga Riki kaget bukan kepalang. Sebab, selama 2 ia tahun merantau, Riki tak pernah bisa dihubungi. Rama Uli–namboru (saudara perempuan dari ayah Riki)–mengatakan, awalnya keponakannya itu bekerja di PT Raja Crew Atlantik (RCA). Riki kemudian berangkat dari Siantar menuju Tegal pada bulan Juni 2019.
“Dia belajar selama kurang lebih 3 bulan untuk mendapatkan buku pelayarannya dan bisa berangkat dengan kapal ikan,” sebut Rama Uli melalui sambungan seluler, Sabtu (3/7/2021). Dari Tegal, Riki kemudian berangkat ke Singapura menuju kapal tempatnya bekerja pada 12 Oktober 2019.

Riki disebut menerima kontrak selama 2 tahun untuk bekerja di Kapal Kapal Taihong 6. Namun, sejak hari keberangkatan itu, Riki tidak lagi bisa dihubungi. Keluarga mendapat informasi, bahwa tidak ada jaringan telepon di tengah laut. “Selama dua tahun kami mencari tahu bagaimana caranya agar bisa mendapat kabar dari paraman (keponakan) saya itu,” kata Rama.
Bahkan, hingga orangtuanya meninggal dunia, Riki tetap saja tak bisa dihubungi. “Saya juga sudah menghubungi pihak perusahaan agar bisa mendapatkan sedikit kabar tentang paraman saya. Tapi, pihak kapal mengungkapkan bahwa tidak ada jaringan dan tidak ada hasil yang kami dapatkan,” ungkap Rama. Hingga akhirnya, pada 29 Juni 2021 sekira pukul 11.00 WIB, pihak keluarga tiba-tiba dihubungi memberitahukan kematian Riki. “Katanya paraman saya meninggal karena sakit.
Kaki bengkak serta nyeri dan BAK susah,” jelas Rama. Dari informasi yang diperoleh keluarga, setelah sakit Riki sempat dipindahkan ke Kapal Taixiang 11 untuk mendapatkan perawatan pada 12 Juni 2021. “Dan pada tanggal 28 Juni pukul 02.12 WIB, paraman saya sudah meninggal,” ucap Rama. Mirisnya, meski sudah meninggal dunia, jenazah Riki tidak bisa dipulangkan ke rumah duka di Jalan Tangki, Kecamatan Martoba, dengan alasan pandemi Covid-19.
Keluarga kemudian mendapat tawaran berupa sejumlah uang dari seseorang, agar menyetujui jenazah Riki dibuang saja ke laut. Tawaran itu hingga saat ini tidak diterima pihak keluarga Riki. Mereka hanya meminta agar jenazah Riki bisa dipulangkan ke Indonesia untuk dimakamkan di Pematang Siantar.

“Kami memohon bantuan, saudara, teman, instansi yang berkompeten dalam masalah ini, agar dapat membantu agar jenazah paraman kami bisa dipulangkan ke Indonesia,” kata Rama mengatakan, melalui keluarga yang ada di Jakarta, pihaknya sudah meminta bantuan untuk meneruskan kabar tersebut kepada Kemenlu, Kedubes hingga Presiden Joko Widodo.
“Kami keluarga besar Samosir juga memohon kepada keluarga besar Raja Sonang Sedunia agar memberikan hati untuk membantu. Tolong bantu kami,” harapnya. Ia menambahkan, keluarga mereka hanya ingin jenazah Riki dipulangkan dan sama sekali tidak berharap uang kompensasi.




0 Komentar